Redaksi Manggisan.ORG Situs www.manggisan.org adalah media online yang dikelola oleh santri FATIHUL ULUM Manggisan. Artikel tidak mencerminkan sikap resmi Pondok Pesantren Fatihul Ulum.

Guru Ideal, adakah ?

3 min read

Manggisan.org – GURU IDEAL, ADAKAH ?

Berbicara tentang guru memerlukan kehati-hatian. Imam Asy-Syafii,rohimahullah, pernah berkata tentang sikap menyampaikan ilmu, “Aku sangat berharap orang-orang mempelajari ilmu ini dariku, sementara tidak satu hurufpun yang dinisbatkan kepadaku”. Maka dari itu, dalam menulis tentang guru, penulis juga berpedoman pada perkataan Imam Syafii diatas. Sebisa mungkin penulis menghindari rangkaian kata yang lahir dari pemikiran penulis sendiri, jadi, hanya akan mengutip dari berbagai kitab atau buku secara utuh, ma’nan wa lafdzon, sehingga tidak ada satu hurufpun yang dinisbatkan kepada penulis.

Kitab-kitab sepeti ta’limul muta’allim, adabul ‘alim wa muta’allim, almu’allim arrobbany, dan muhammad the super leader super manager, penulis rasa didalamnya sudah terhimpun ciri-ciri guru ideal yang diharapkan. Dan dari saripati kitab-kitab itulah makaddimah bab ini dihimpun.guru ideal, adakah?

Kata guru dalam Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sanskerta, yang berarti orang yang digugu atau orang yang dituruti fatwa dan perkataannya. Hal itu memang pada masa lalu guru menjadi panutan bagi muridnya sehingga kata-katanya selalu dituruti dan perbuatannya selalu menjadi teladan bagi murid-muridnya.

Dalam bahasa Arab, guru disebut dengan mu’allim, murabbi, mudarris, dan mu’addib. Sebagai mu’allim guru harus mempunyai kompetensi profesi atau menguasai ilmu pengetahuan yang akan diajarkan kepada peserta didik. Sebagai murabbi guru harus mempunyai peranan dan fungsi membuat pertumbuhan, perkembangan, serta menyuburkan intelektual dan jiwa peserta didik. Sebagai mudarris guru mempunyai tugas dan kewajiban membuat bekas (yang baik) dalam jiwa peserta didik. Bekas itu merupakan hasil pembelajaran yang berwujud perubahan prilaku, sikap, dan pengembangan ilmu pengetahuan mereka. Sebagai mu’addibguru mempunyai tugas membuat anak didiknya menjadi insan yang berakhhlaq mulia sehingga mereka berperilaku terpuji.[1]

Pembahasan diatas menggambarkan, bahwa guru dituntut tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik, tetapi ia juga mesti membentuk jiwa mereka agar menjadi pribadi yang kaya secara intelektual dan kejiwaan. Harapannya, mereka mempunyai sikap dan prilaku terpuji.

GURU MANUSIA

Dimensi lain dari kesuksesan Nabi Muhammad saw dalam kepemimpinan dan manajemen adalah dalam bidang pendidikan. Beliau sangat menekankan pentingnya pendidikan untuk meningkatkan kualitas manusia. Pemikiran yang beliau hasilkan mampu menjawab berbagai persoalan manusia.

Dalam hal ini Rosulullah saw bersabda, artinya, “Sesungguhnya Allah telah mendidikku dengan baik, kemudian Dia menyuruhku dengan akhlak-akhlak mulia dan berfirman, ‘Ambillah kemaafan dan suruhlah dengan kebaikan, serta berpalinglah dari orang-orang yang jahil.”.

Beberapa hal yang berkaitan dengan teladan Rosulullah saw bagi dunia pendidikan. Hal ini tidak terlepas dari peran beliau sebagai “guru manusia” yang memiiki banyak hal yang dapat kita tiru dan teladani.

Rosulullah sebagai living model. Beliau menjadikan dirinya sebagai model dan teladan bagi ummatnya. Rosulullah saw adalah Alquran yang hidup (the living quran). Pada diri Rosulullah tercermin semua ajaran Alquran dalam bentuk nyata. Oleh karena itu, para sahabat dimudahkan dalam mengamalkan ajaran Islam yaitu dengan meniru perilaku Rosulullah saw. Output sistem pendidikan Rosulullah saw adalah orang yang langsung beramal, berbuat dengan ilmu yang didapat karena Allah swt, bukan karena yang lain.

Tuntunan Nabi Muhammad saw tentang sifat-sifat guru: ikhlas, jujur, walk the walk (ucapan sama dengan tindakan), adil dan egaliter, akhlak mulia, tawadlu’, berani, jiwa humor yang sehat, sabar dan menahan amarah, menjaga lisan, dan sinergi dan musyawaroh.[2]

Dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim (Imam Alhusain bin Almansur Alyamani) yang diterjemahkan oleh M. Alimin Muhtar, dalam mukaddimahnya, penerjemah mengatakan bahwa ‘seorang alim (guru), dimasa lampau, adalah bagian dari mata rantai tak terputus yang menyambungkan ummat dengan Nabinya, dan itu berarti pula satu-satunya sanad yang terpercaya untuk mengenal Allah dalam kehidupan ini. Tentu saja, selain memiliki bekal otoritas ilmiyah, maka secara moral mereka adalah orang-orang yang kredibel dan patut diteladani. Martabat pewaris Nabi dan cahaya ilmu hanya akan dikaruniakan bagi mereka yang layak untuk itu. Dalam buku almu’allim arrobbany disebutkan bahwa merupakan suatu kesepakatan bahwa ‘guru’ mengemban risalah para nabi dan rosul. Guru harus memiliki sifat-sifat tertentu, sebab guru diibaratkan naskah asli yang akan dicopy.[3]Menjadi seorang alim merupakan cita-cita tertinggi para pemuda muslim jaman dahulu. Visi misinya adalah untuk mendatangkan keridloan Allah.

Sayangnya, kini visi semacam itu semakin memudar dan diganti dengan atribut seorang guru dalam budaya sekuler – materialis yang menempatkannya tidak lebih sebagai tenaga terdidik. Atribut ini yang sebenarnya mencerminkan pandangan yang lebih gawat tentang hakikat guru dan fungsi mereka dalam kehidupan dengan melecehkan guru sekedar sebagai sebuah profesi.[4]Sayangnya lagi, pemerintah memformalkan pelecehan ini dengan mengeluarkan sertifikat guru profesional yang, akhir-akhir ini, justru memenjarakan kebebasan berkreatif bagi para guru.

Dalam mengajar (ilmu fardlu ‘ain), hendaklah seorang guru memperhatikan dua belas adab:

  1. Hendaknya berkeinginan memperoleh ridlo Allah dengan ilmu yang dimilikinya, bukan untuk memperoleh tujuan-tujuan duniawi, seperti harta dan popularitas.
  2. Senantiasa merasa diawasi oleh Allah, baik dalam keadaan sendirian ataupun dihadapan orang lain.
  3. Menjaga ilmu sebagaimana para ulama menjaganya, dengan menegakkan kehormatan dan kemuliaan.
  4. Menerapkan akhlaq yang dianjurkan oleh syariat.
  5. Menjauhi pekerjaan yang rendah dan hina menurut tabiat manusia (menjauhi kondisi yang potensial menimbulkan tuduhan buruk dari orang lain), jika terpaksa maka harus menjelaskan hukumnya kepada orang yang melihatnya.
  6. Senantiasa menjaga syiar-syiar Islam, seperti menegakkan sholat lima waktu di masjid, menebarkan salam dan menutup aurot.
  7. Senantiasa menjaga amaliah yang sangat dianjurkan menurut syariat (mandub) dalam perkataan atau perbuatan.
  8. Bergaul dengan ahlak mulia.
  9. Membersihkan diri dari ahlak tercela, seperti iri, dengki, pengecut, pongah, angkuh, dan lainnya.
  10. Senantiasa berhasrat untuk meningkatkan kualitas diri dengan banyak membaca, menelaah, berfikir, mengkritisi, menghafal, mengarang dan meneliti, tidak suka menyia-nyiakan waktu dengan hal-hal yang tidak ada relevansinya dengan ilmu dan amal.
  11. Jangan merasa enggan mempelajari sesuatu dari orang lain yang lebih rendah dari segi posisi, nasab, maupun usia.
  12. Menyibukkan diri untuk mengarang, mengumpulkan, dan menyusun suatu karya dengan didasari kesempurnaan dalam keahlian.[5]

Dua belas karakter guru diatas hanya dari sisi akidah, akhlaq, dan prilaku secara umum. Karakter lain yang harus dimiliki adalah karakter prilaku didalam kelas, misalnya niat yang baik, berdoa, tawaddu’, menunjukkan vitalitas, tidak cepat marah, berpenampilan rapi dan syar’i, dan berwibawa. Juga, harus memiliki karakter profesional, seperti menguasai materi pelajaran, mengajar atas kemauan sendiri, memiliki kesiapan alami, menguasai cara dan teknik mengajar. Intinya guru harus mempunyai kesiapan mental, fisik, waktu, dan ilmu.[6]

Dalam kehidupan pelajar di pondok pesantren, khususnya, peran guru yang menginspirasi sangat dibutuhkan. Banyak dari para santri yang tidak bisa melihat luasnya jalan kebaikan. Keberadaan wali atau orang tua mereka, terkadang, hanya berfungsi sebagai orang tua biologis yang siap memenuhi kebutuhan biaya saja, tidak berfungsi sebagai orang tua spiritual, motivator dan teladan. Dalam kondisi seperti inilah, mereka membutuhkan belaian kasih sayang dan dorongan semangat dari para gurunya.

BY: Santri Fatihul Ulum Manggisan

 

Redaksi Manggisan.ORG Situs www.manggisan.org adalah media online yang dikelola oleh santri FATIHUL ULUM Manggisan. Artikel tidak mencerminkan sikap resmi Pondok Pesantren Fatihul Ulum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *