Redaksi Manggisan.ORG Situs www.manggisan.org adalah media online yang dikelola oleh santri FATIHUL ULUM Manggisan. Artikel tidak mencerminkan sikap resmi Pondok Pesantren Fatihul Ulum.

Rindu Pesantrenku

1 min read

Manggisan.org – Rindu Pesantrenku

Mega merah menghiasi angkasa, menjadi sebuah pemandangan yang sangat indah. Seakan memanggil orang-orang untuk segera menghentikan pekerjaan mereka. Semua santri, pengurus, dan para ustadz bergegas mengambil air wudhu’ untuk menunaikan sholat maghrib berjamaah.

Sholat berjamaah pun segera dilaksanakan dengan kyai sebagai imam. Usai sholat, semua santri bergegas ketempat masing-masing dan sebagian kecil saja yang melanjutkan membaca wiridan-nya. Tidak ada aktivitas wajib setelah magrib saat itu, karena dua hari lagi akan menghadapi imtihan dan libur panjang.Rindu PesantrenKu

Daniel adalah santri yang sudah tiga tahun belajar dipesantren. Dia duduk di musholla, menghadap sambil menikmati keindahan langit bagian selatan yang dihiasi bintang-bintang. Faza mendatanginya dan mereka berdua berbincang-bincang.

“niel, kapan kamu pulang? Mana nomor Hp-mu?” kata faza memulai perbincangan.

“Gak tahu, za. Aku bingung.” Balas Daniel malas.

“Lho, kok bisa bingung? Apanya yang membuat bingung? Bukankah sebentar lagi kita akan liburan?”

“Begini, za, aku ingin pulang kerumah, tetapi nanti aku akan merindukan pesantren ini. Memang benar, ketika aku baru nyantri disini, kyai dulu pernah bilang;

“jika kalian meninggalkan rumah dan pindah ke suatu tempat untuk waktu yang lama, maka kalian akan rindu pada rumah kalian, jika kalian melawan rindu itu, maka kalian akan bisa melupakan rumah kalian, lalu tempat itu menjadi rumah kedua bagi kalian. Jika suatu saat kalian meninggalkan rumah kalian (pondok) dan pulang kerumah (asal), maka kalian akan merindukan rumah kedua (pondok) kalian.” Terang Daniel menjelaskan ke faza.

“jadi bagaimana, za?”

“Begini aja, niel, kalau kamu ingin tinggal disini dan rasa rindu pada rumahmu dating, maka lawanlah rindu itu dna lupakanlah rumah mu. Jika kamu pulang kerumah dan rindu pesantren ini, maka lawanlah rindu itu, tapi jangan berhenti mondok, ya!”

Mereka terus berbincang hingga larut malam. Ditemani bulan dan bintang yang membisu terus mengawasi mereka tanpa berbicara. Tepat pada jam sebelas malam mereka baru pergi tidur.

Dua hari kemudian, pada jam yang sudah ditentukan, para santri nyabis pada kyai. Lalu mereka berlalu lalang pulang meninggalkan pesantren. Bajunya dibawa dengan tas seperti baru dating dari kerja. Sebagian dari mereka di jemput orangtuanya. Nizar juga sudah bersiap pulang. Ia teringat faza dan lekas mencarinya.

“za, aku hari ini ingin pulang. Makasih, ya, kamu telah ngasih saran baik untukku.” Kata Daniel sambil memeluk erat faza.

“Berterima kasihlah pada Allah.” Jawab faza sambil memegang pundah Daniel. Lalu mereka saling tukar nomor HP.

“Ingat pesanku, Niel. Kamu harus kembali ke pesantren ini, ya!”

“Oke, insya Allah.”

Lalu mereka berpisah. Faza ke arah barat. Nizar ke utara menuju orang tuanya yang sedang menuggu. Sambil menatap ke gedung pesantren, Daniel bergumam: “tunggu kedatanganku kembali, wahai rumah keduaku.”

By: Jefry aditya putra, Santri Fatihul Ulum Manggisan

Redaksi Manggisan.ORG Situs www.manggisan.org adalah media online yang dikelola oleh santri FATIHUL ULUM Manggisan. Artikel tidak mencerminkan sikap resmi Pondok Pesantren Fatihul Ulum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *